Minggu, 05 Oktober 2014

3 Oktober 2014

Hai Bloggers!
Hari ini kita akan mempelajari sedikit tentang “EKSISTENSIALISME”. Tapi, sedikit beda nih dengan sebelum-sebelumnya. Kali ini kita akan mempelajari pendapat dari 2 tokoh terkemuka yaitu Kierkegaard dan Sartre. Tapi, sebelum kita mulai masuk ke penjelasan dari 2 tokoh tersebut, ada baiknya kita mengenal eksitensialisme terlebih dahulu. Jadi,sebenarnya apa itu eksistensialisme?

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya. Secara etimologis, ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya. Eksistensi ≠ berada.

Ciri-ciri eksistensialisme :
      Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
      Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan.
      Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
      Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.

Nah, sekarang baru deh kita masuk ke teori Kirkegaard mengenai eksistensialisme. Yuk langsung kita bahas

POKOK-POKOK AJARAN KIRKEGAARD

Kirkegaard mengkritik Hegel karena terdapat satu hal yang dilupakan Hegel. Menurut Kirkegaard, eksistensi manusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan ‘pada umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, karena manusia pada umumnya tidak ada. Yang ada itu adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi.
Eksistensi berarti bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya.
3 cara bereksistensi yaitu :
      Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan.
      Sikap etis: Sikap menerima kaidah2 moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya.
      Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan

MANUSIA MENJADI SEPERTI YANG DIPERCAYAINYA

Pernyataan Parmenides hingga Hegel yang berbunyi ‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh Kierkegaard, karena menurutnya ‘percaya itu sama dengan menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada secara abadi. Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yg pasif, atau sebagai pemain/individu yg menentukan sendiri eksistensinya dengan mengisi kebebasannya.

WAKTU DAN KEABADIAN

Setiap orang adalah campuran dr ketakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia adalah gerak menuju Allah, tapi juga terpisah/terasing dari Allah. Manusia dpt menyatakan YA kepada Tuhan dalam iman, atau mengatakan TIDAK. Jika ia mengatakan YA, ia akan menjadi yg ia ada. Manusia hidup dalam dlm dua dimensi sekaligus: keabadian dan waktu. Kedua dimensi itu bertemu dalam ‘saat’. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian bersatu. Kita menjadi eksistensi dlm saat, yaitu saat pilihan. Pilihan itu suatu ‘loncatan’ dr waktu ke keabadian.

SUBYEKTIVITAS DAN EKSISTENSI SEBAGAI TUGAS

Eksistensi manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dn religius. Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggungjawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri. Untuk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.

PUBLIK DAN INDIVIDU

Publik bagi Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya bila itu dianggap nyata. Orang sering berusaha menggabungkan diri dalam kelompok. Ini bukti orang itu tidak berani tampil sendiri secara berarti. Mereka itu orang-orang lemah. Mengandalkan diri pada kekuatan numerik. Ini adalah kelemahan etis. Kierkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain. Hanya setelah individu itu mencapai sikap etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan.
Nah, itu adalah teori eksistensialisme dari Kirkegaard. Sekarang kita masuk ke teori eksistensialisme menurut tokoh yang gak kalah terkemuka sama Kirkegaard. Yuk kita bahas gimana sih eksistensialisme menurut Sartre.

PEMIKIRAN FILSAFAT SARTRE

Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.  Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.

Membedakan “berada dalam diri” dengan “berada untuk diri”. Berada dalam diri = berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Mis. meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Semua yang berada dalam diri ini tidak aktif. Mentaati prinsip it is what it is.
Berada untuk diri = berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan keberadaannya. Bertanggung jawab atas fakta bahwa ia ada. Mis. Manusia bertanggung jawab bahwa ia pegawai, dosen. Benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tapi manusia sadar bahwa dia berada. Pada manusia ada kesadaran.
Tuhan tidak bisa dimintai tanggung jawab . Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggung jawab. Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.

APA YANG MENGURANGI KEBEBASAN MANUSIA?

1)    Tempat kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
2)    Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
3)    Lingkungan sekitar
4)    Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
5)    Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.

KETUBUHAN MANUSIA

Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat semata-mata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.

KOMUNIKASI DAN CINTA

Komunikasi = suatu hal yang apriori tak mungkin tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorang seolah-olah membekukan orang lain.  Terjadi saling pembekuan sehingga masing-masing jadi objek.

Cinta = bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tak terhindarkan.

Nah, gitu deh bloggers pendapat dari tokoh-tokoh eksistensialisme yaitu Kierkegaard dan Sartre. Sekian pembahasan mengenai eksistensialisme dari saya. Jangan lupa tinggalkan komentar ya bloggers untuk blog ini dan diberi nilai dari 1-100. Terima kasih JJJJ

3 komentar:

  1. Penjelasanny lengkap..tulisannya rapi..95

    BalasHapus
  2. isinya bermanfaat sekali. 97 ya

    BalasHapus
  3. ARTIKEL YANG BAGUS SEMOGA BERMANFAAT YAH GAN ^^
    DAN JANGAN LUPA KUNJUNGI WEBSITE KAMI KEMBALI ☺

    BalasHapus