Hai Bloggers!
Hari ini kita akan mempelajari sedikit
tentang “EKSISTENSIALISME”. Tapi, sedikit beda nih dengan sebelum-sebelumnya.
Kali ini kita akan mempelajari pendapat dari 2 tokoh terkemuka yaitu
Kierkegaard dan Sartre. Tapi, sebelum kita mulai masuk ke penjelasan dari 2
tokoh tersebut, ada baiknya kita mengenal eksitensialisme terlebih dahulu.
Jadi,sebenarnya apa itu eksistensialisme?
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pokok
utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.
Secara etimologis, ex= keluar, sistentia (sistere)=berdiri. Manusia
bereksistensi = manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari
dirinya. Eksistensi ≠ berada.
Ciri-ciri eksistensialisme :
•
Motif pokok adalah eksistensi, cara
manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
•
Bereksistensi harus diartikan secara
dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi,
dan merencanakan.
•
Manusia dipandang terbuka, belum
selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
•
Memberi penekanan pada pengalaman
konkrit.
Nah, sekarang baru deh kita masuk ke teori
Kirkegaard mengenai eksistensialisme. Yuk langsung kita bahas
POKOK-POKOK
AJARAN KIRKEGAARD
Kirkegaard mengkritik Hegel karena terdapat satu
hal yang dilupakan Hegel. Menurut Kirkegaard, eksistensi manusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat dibicarakan ‘pada umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, karena manusia pada umumnya tidak ada. Yang ada itu adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan.
Manusia itu eksistensi.
Eksistensi
berarti bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan mempraktekkan keyakinannya dan mengisi
kebebasannya.
3 cara bereksistensi yaitu :
•
Sikap estetis: Merengguh
sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan.
•
Sikap etis: Sikap
menerima kaidah2 moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya.
•
Sikap religius: Berhadapan
dengan Tuhan
MANUSIA
MENJADI SEPERTI YANG DIPERCAYAINYA
Setiap orang adalah campuran dr ketakterhinggaan dan keterhinggaan.
Manusia adalah gerak menuju Allah, tapi juga terpisah/terasing dari Allah. Manusia dpt menyatakan YA kepada Tuhan dalam iman, atau mengatakan TIDAK. Jika ia mengatakan YA, ia
akan menjadi yg ia ada. Manusia hidup dalam dlm dua dimensi sekaligus: keabadian dan waktu. Kedua
dimensi itu bertemu dalam ‘saat’. Saat adalah titik dimana waktu dan keabadian
bersatu. Kita menjadi eksistensi dlm saat, yaitu saat pilihan. Pilihan itu
suatu ‘loncatan’ dr waktu ke keabadian.
SUBYEKTIVITAS
DAN EKSISTENSI SEBAGAI TUGAS
Eksistensi
manusia bukan sekadar suatu fakta, tapi lebih dari itu. Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu. Bila eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dn religius. Eksistensi sebagai tugas disertai oleh tanggungjawab. Tidak seperti berada dalam massa, eksistensi sejati memungkinkan individu memilih
dan mengambil keputusan sendiri. Untuk itulah Kierkegaard menganggap subyektivitas dan
eksistensi sejati itu suatu tugas.
PUBLIK
DAN INDIVIDU
Publik bagi
Kierkegaard hanya abstraksi belaka, bukan realitas. Publik menjadi berbahaya
bila itu dianggap nyata. Orang sering berusaha menggabungkan diri dalam kelompok. Ini bukti orang itu tidak berani tampil sendiri secara berarti. Mereka itu orang-orang lemah. Mengandalkan diri pada kekuatan numerik. Ini adalah kelemahan etis. Kierkegaard
bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusia untuk bergabung dengan yang lain. Hanya setelah individu itu mencapai sikap
etis barulah penggabungan bersama dapat disarankan.
Nah, itu adalah teori eksistensialisme dari
Kirkegaard. Sekarang kita masuk ke teori eksistensialisme menurut tokoh yang
gak kalah terkemuka sama Kirkegaard. Yuk kita bahas gimana sih eksistensialisme
menurut Sartre.
PEMIKIRAN
FILSAFAT SARTRE
Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai
dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak
punya kesadaran. Untuk
manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang
keberadaannya sekaligus berarti esensinya.
Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami
manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada
eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggung jawab yang
menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri
kita sendiri.
Membedakan
“berada dalam diri” dengan “berada untuk diri”. Berada dalam diri = berada dalam
dirinya, berada itu sendiri. Mis. meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat
tidur. Semua yang berada dalam diri ini tidak aktif. Mentaati prinsip it is what
it is.
Berada untuk diri = berada yang dengan sadar akan
dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan
keberadaannya. Bertanggung jawab atas fakta bahwa ia ada. Mis. Manusia bertanggung
jawab bahwa ia pegawai, dosen. Benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tapi
manusia sadar bahwa dia berada. Pada manusia ada kesadaran.
Tuhan
tidak bisa dimintai tanggung jawab . Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang
diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang
bebas dia bertanggung jawab. Tanpa kebebasan eksistensi
manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya
sekedar esensi belaka.
APA YANG MENGURANGI KEBEBASAN
MANUSIA?
1)
Tempat
kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri
struktur.
2)
Masa
lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita
sebagaimana kita sekarang ini.
3)
Lingkungan
sekitar
4)
Kenyataan
adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
5)
Maut:
tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
KETUBUHAN MANUSIA
Dalam
eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama sebagai wujud yang bertubuh.
Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh
sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat semata-mata,tapi
mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.
KOMUNIKASI DAN CINTA
Komunikasi = suatu hal yang apriori tak mungkin
tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada
akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yg seorang seolah-olah membekukan orang
lain. Terjadi saling pembekuan sehingga
masing-masing jadi objek.
Penjelasanny lengkap..tulisannya rapi..95
BalasHapusisinya bermanfaat sekali. 97 ya
BalasHapusARTIKEL YANG BAGUS SEMOGA BERMANFAAT YAH GAN ^^
BalasHapusDAN JANGAN LUPA KUNJUNGI WEBSITE KAMI KEMBALI ☺