Minggu, 21 September 2014

18 September 2014

Hai haiii! Mulai hari ini, saya akan post di blog ini pakai bahasa Indonesia loh. Saya hari ini mendapatkan pelajaran tentang Epistemologi dan kebenaran di kelas filsafat saya. Jadi, saya akan bagikan pelajaran itu melalui blog ini

EPISTEMOLOGI

Kata epistemology dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Epistemologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Epistemologi berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan antara lain :
  •     Empirisme : suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.
  •       Rasionalisme : sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.
  •     Fenomenalisme (gabungan antara empirisme dan rasionalisme)
Bapak fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Bagi Kant, penganut empirisme dan rasionalisme benar.

Sifat-sifat epistemologi :
       Secara kritis : menguji cara kerja,pendekatan, kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia 
       Secara normative : menentukan tolok ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan
       Secara evaluatif : menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pengtahuan dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat

Dasar dan sumber pengetahuan :
-          Pengalaman manusia
-          Ingatan (memory)
-          Penegasan tentang apa yang diobservasi
-          Minat dan rasa ingin tahu
-          Pikiran dan penalaran
-          Logika
-          Bahasa
-          Kebutuhan hidup manusia

Struktur ilmu pengetahuan :
Terdapat dua kutub yaitu S (subjek) dan O (objek). Subjek berperan sebagai yang menyadari atau mengetahui. Sedangkan, objek berperan sebagai yang disadari atau diketahui. Hubungan antara S dan O menjadi ilmu pengetahuan.

Teori kebenaran dalam ilmu pengetahuan :
  •           Korespondensi
Kebenaran akan terjadi apabila subjek  yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataannya. Contoh : Saya melihat mobil berwarna hijau dan kenyataannya mobil itu memang berwarna hijau
  •       Koherensi
Kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek terhadap objek. Contoh : Beberapa dokter merasa yakin dan benar bahwa penyakit pasien itu disebabkan  keracunan makanan
  •          Pragmatik
Kebenaran akan terjadi apabila sesuatu memiliki kegunaannya . Contoh : AC berguna untuk mendinginkan suhu ruangan
  •          Konsensus
Kebenaran konsensus akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu. Contoh : Beberapa dokter yang menangani Bapak Gubernur sepakat bahwa  ia (pasien) harus dioperasi secepatnya karena penyakit usus buntunya sudah parah
  •          Semantik
      Kebenaran semantik akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata. Contoh : Saya dapat memahami dengan benar dan tepat tulisan di Jurnal Wacana mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial budaya.

KEBENARAN

     Kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan sesungguhnya. Suatu pengetahuan atau pernyataan di sebut benar jika sesuai dengan kenyataan. Kata Yunani untuk kebenaran adalah alètheia. Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alètheia berarti “ketaktersembunyiaan adanya” atau “ketersingkapan adanya”. Kebenaran dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada obyek yang diketahui, atau pada apa yang dikejar untuk diketahui.


     Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. 

Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar. Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi). Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.

     Menurut Thomas Aquinas, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran ontologis dan kebenaran logis. Kebenaran ontologis merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui. Kebenaran logis sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan. Kedudukan kebenaranKedudukan kebenaran pengetahuan dalam pandangan Platonis lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui. sedangkan Aristotelian dalam subyek yang mengetahui. 

Kesahihan dan Kekeliruan
     Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut. Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup padahal sudah.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan :
     1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses  kegiatan mengetahui
     2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah
     3.  Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi  atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia
     4.  Prasangka dan bias-bias, baik individu maupun sosial
     5.  Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logis.

Ini semua adalah materi yang telah saya pelajari hari ini. Semoga dapat membantu, dan jangan lupa untuk meninggalkan komentar anda pada blok saya agar saya dapat memiliki blok yang lebih baik lagi ke depannya. Atas kesediaan kalian, saya ucapkan terima kasih :)


Sumber : power point "Epistemologi" dan "Kebenaran"

20 komentar:

  1. lengkap banget postingannyaa! 90 buat ingridd

    BalasHapus
  2. Gila, inggrid blognya lengkap deh, emang niat nih bikinnya, 95 deh buat Inggrid, ckckxk

    BalasHapus
  3. lengkap dan kreatif banget editannya... aku kasi 90 yaa

    BalasHapus
  4. Wah bagus banget bahasannya lengkap lagi gua kasih nilai 95 ing

    BalasHapus
  5. Isinya lengkap dan sangat membantu.. Great post! Thanks for sharing :))

    BalasHapus
  6. postingnya sangat lengkap, penjelasanny mudah dimengerti dan ditambah lagi dengan beberapa contoh yang memperkuat penjelasanny..90 buat Ingrid

    BalasHapus
  7. two thumbs up grid ! 85 !

    BalasHapus
  8. Lengkap bangeet ngriddd
    O.O
    jadi gampang ngertinyaa 88 deh buat kamuu

    BalasHapus
  9. ingridd lengkapp bgtt .. 88 yaa buatt kamuu ... jgn lupa main k blog ku yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeay makasih cindyyy, iya gak lupa main ke blog mu kok :D

      Hapus