Selasa, 11 November 2014

Pengaruh Broken Home terhadap Perkembangan Psikologis Anak (Tugas Akhir Ingrid 705140021)

Pengaruh Broken Home terhadap Perkembangan Psikologis Anak

Latar Belakang
     Anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orangtua mereka dalam proses perkembangannya. Perhatian dan kasih sayang dari orangtua merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses perkembangan psikologis anak. Sebagai contoh, Abdul Qodir Jaelani atau yang lebih dikenal dengan Dul yang berusia 13 tahun. Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, menyebabkan terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan 6 korban meninggal dunia dan 9 korban luka berat akibat Lancer yang dikemudikan oleh anak usia 13 tahun itu. Anak seusia Dul masih membutuhkan perhatian yang lebih dari orangtuanya, terutama ibunya. Dul ibarat anak panah yang meluncur untuk mencari kasih sayang dan perhatian di luar rumah (Kompas, 2013).
     Jadi, latar belakang anak yang berasal dari keluarga broken home akan memengaruhi perkembangan psikologis anak itu sendiri. Oleh karena itu, penulis membuat artikel dengan judul “Pengaruh Broken Home terhadap Perkembangan Psikologis Anak” untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari broken home terhadap perkembangan psikologis anak.

Pengertian Broken Home
     Pengertian broken home menurut oxford dictionary. Dalam Oxford Dictionary (2010, h. 219) dituliskan bahwa broken home adalah “A family in which the parents are divorced or separated
     Pengertian broken home menurut ahli. Platt (dikutip dalam Musick, 1995, h. 147) menyatakan bahwa “A psychologically broken home is one where quarreling and fighting dominates, where regular verbal abuse of children and parents occurs. Physically broken homes are those where one or both parents are missing.”
     Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa broken home adalah kondisi ketidakutuhan dalam sebuah keluarga yang diakibatkan oleh perceraian dan perpisahan antara suami dan istri.

Penyebab Terjadinya Broken Home
     Habsari (2005) menyatakan bahwa beberapa hal yang menjadi penyebab broken home adalah (a) kemiskinan dan hutang yang melilit, (b) pasangan tidak lagi saling menghargai dan menyayangi, (c) pengaruh orang ketiga yang berusaha mengahancurkan hubungan rumah tangga, dan (d) salah satu pasangan jatuh cinta terhadap orang lain sehingga menyebabkan terjadinya perselingkuhan.

 Perkembangan Anak
     Kurniawan (2012) menyatakan bahwa terdapat 8 tahap perkembangan psikologis anak, antara lain: (a) kepercayaan atau ketidakpercayaan, pada usia 0-12 bulan; (b) kemandirian atau rasa malu; pada usia 12-24 bulan; (c) inisiatif atau rasa bersalah, pada usia 2-5 tahun; (d) ketekunan atau rasa rendah diri, pada usia 5-10 tahun; dan (e) identitas atau kebingungan identitas, pada usia 10-20 tahun.
     Kepercayaan atau ketidakpercayaan (0-12 bulan). Pada tahap ini, bayi harus dipenuhi rasa percaya pada orang terdekatnya. Kelekatan fisik pada tahap ini menjadi sangat penting karena bayi merasakan rasa percaya melalui sentuhan fisik yang diberikan.
     Kemandirian atau rasa malu (12-24 bulan). Setelah diberikan kepercayaan, bayi mulai belajar mengenali lingkungan dengan memegang benda yang ia temukan. Pada proses ini, bayi harus diberikan apresiasi agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang pemalu.
     Inisiatif atau rasa bersalah (2-5 tahun). Anak mulai mengembangkan rasa inisiatif mereka dan mulai tertarik dengan banyak hal pada tahap ini. Pada fase ini, anak sudah mulai mengerti nilai moral walaupun belum mengetahui mana yang benar dan salah.
     Ketekunan dan rendah diri (5-10 tahun). Anak mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial. Pada fase ini, anak mengembangkan keterampila sosial dan menyenangi hal-hal spesifik. Fase ini merupakan fase terbaik untuk mengembangkan rasa percaya diri anak dengan mengikutsertakan anak dengan lomba-lomba sesuai dengan bakat mereka.
     Identitas dan kebingungan identitas (10-20 tahun). Fase ini merupakan tahap pencarian identitas yang dilakukan oleh seorang remaja. Pada masa ini, seorang remaja mulai berpikir tentang makna dari menang dan kalah. Di masa remaja, kompetisi merupakan ajang pembutian identitas diri. Menang akan menghasilkan bangga, kalah menghasilkan rasa tidak terima.

Dampak Broken Home terhadap Psikologis Anak
     Stahl (2000/2004) mengklasifikasikan dampak anak broken home dalam tahap-tahap sebagai berikut: (a) anak prasekolah, anak yang berusia 3-5 tahun; (b) anak usia sekolah, anak yang berusia 6-12 tahun; dan (c) anak usia remaja, anak yang berusia 13-17 tahun.
     Anak prasekolah (usia 3-5 tahun). Anak-anak prasekolah yang menjadi korban broken home akan menarik diri secara serius. Mereka akan dengan mudah menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi di sekeliling mereka. Sejumlah anak akan tertekan dan menarik diri bahkan mengalami mimpi buruk. Mereka akan memiliki rasa jengkel, terganggunya rasa percaya diri, perilaku agresif, dan muncul perilaku yang berbeda dari biasanya.
     Anak usia sekolah (6-12 tahun). Anak-anak usia sekolah yang menjadi korban broken home cenderung merasa kehilangan dalam keluarganya dan mungkin akan merasakan kepedihan dan sering menangis. Anak-anak dalam kelompok usia ini kemungkinan akan marah dan memilih salah satu orangtua mereka sebagai cara untuk tetap mempertahankan harga diri dan hubungan mereka. Beberapa anak menunjukkan gejala yang lebih serius, seperti melampiaskan amarahya, merubah perangai, menghadapi masalah-masalah tidur, perubahan tingkah laku dan kegagalan akademis di sekolah, menarik diri, menyerang teman sebayanya, dan depresi.
     Anak usia remaja (13-17 tahun). Anak-anak usia remaja yang menjadi korban broken home berpotensi menghadapi kegagalan akademis, ketidakteraturan waktu makan dan tidur, depresi, bunuh diri, kenakalan remaja, dewasa sebelum waktunya atau penyalahgunaan narkoba. Apabila terjadi perceraian di usia ini, remaja mengkhawatirkan hilangnya kehidupan keluarga mereka. Mereka cenderung merasa ikut bertanggung jawab, merasa bersalah, dan marah karena dampak yang mereka rasakan akibat perceraian itu.

Simpulan
     Broken home merupakan kondisi ketidakutuhan dalam sebuah keluarga yang diakibatkan oleh perceraian dan perpisahan antara suami dan istri. Broken home memberikan pengaruh bagi perkembangan psikologis anak karena tidak adanya orangtua yang dapat mendukung pembentukan diri seorang anak. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan psikologis anak. Dampak negatif tersebut seperti usaha untuk menarik diri, tertekan, terganggunya rasa percaya diri, rasa agresif, emosi yang tak terkontrol, mengalami masalah-masalah tidur, tingkah laku dan akademis di sekolah, depresi, ketidakteraturan waktu makan dan tidur, dan kenakalan remaja.

Saran
     Bagi anak yang berasal dari keluarga broken home dapat berdoa setiap hari kepada Tuhan YME agar diberikan kekuatan, selalu berpikir positif, sibukkan diri dengan kegiatan yang positif, belajar dengan tekun untuk meraih prestasi yang baik, selektif dalam memilih teman, dan tetap berhubungan dengan orangtua melalui telepon atau sms.
     Bagi orangtua, sebaiknya tetap berhubungan dengan anak, tidak bertengkar di depan anak, menelepon anak setiap hari, memberikan support pada anak, dan mengecek kondisi anak setiap hari.

 Daftar Pustaka
Habsari, S. (2005). Bimbingan dan konseling SMA untuk kelas XII. Jakarta: Grasindo.
Kurniawan, Y. (2012). Kenali 8 tahap perkembangan psikologis anda. Diunduh dari http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/12/20/kenali-8-tahap-perkembangan-psikologis-anda-517613.html pada 10 November 2014.
Musick, D. (1995). An introduction to the sociology of juvenile delinquency. Albany, NY: State University of New York Press.
Musthofa, T. (2013). Dul korban keluarga broken home. Diunduh dari http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/09/dul-korban-keluarga-broken-home-590926.html pada 11 November 2014.
Septiani, E. (2014). Kenakalan remaja akibat orang tua broken home. Diunduh dari http://www.academia.edu/5664179/KENAKALAN_REMAJA_AKIBAT_ORANG_TUA_BROKEN_HOME pada 9 November 2014.
Colman, A. M. (2009). Oxford dictionary of english (3rd ed.). New York, NY: Oxford University Press.

Stahl, P. M. (2004). Menjadi orang tua setelah perceraian. (Gyani, Penerj.). Jakarta: Grasindo. (Karya asli diterbitkan tahun 2000)

1 komentar: