Pengaruh
Broken Home terhadap Perkembangan Psikologis
Anak
Latar
Belakang
Anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian
yang cukup dari orangtua mereka dalam proses perkembangannya. Perhatian dan
kasih sayang dari orangtua merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses
perkembangan psikologis anak. Sebagai contoh, Abdul Qodir Jaelani atau yang
lebih dikenal dengan Dul yang berusia 13 tahun. Kurangnya kasih sayang dan
perhatian dari orang tuanya, menyebabkan terjadinya kecelakaan yang
mengakibatkan 6 korban meninggal dunia dan 9 korban luka berat akibat Lancer
yang dikemudikan oleh anak usia 13 tahun itu. Anak seusia Dul masih membutuhkan
perhatian yang lebih dari orangtuanya, terutama ibunya. Dul ibarat anak panah
yang meluncur untuk mencari kasih sayang dan perhatian di luar rumah (Kompas,
2013).
Jadi, latar belakang anak yang berasal
dari keluarga broken home akan
memengaruhi perkembangan psikologis anak itu sendiri. Oleh karena itu, penulis
membuat artikel dengan judul “Pengaruh Broken
Home terhadap Perkembangan Psikologis Anak” untuk mengetahui bagaimana
pengaruh dari broken home terhadap
perkembangan psikologis anak.
Pengertian
Broken Home
Pengertian broken home menurut
oxford dictionary. Dalam Oxford Dictionary (2010, h. 219) dituliskan bahwa broken home adalah “A family in which the parents are divorced or separated”
Pengertian broken home menurut
ahli. Platt (dikutip
dalam Musick, 1995, h. 147) menyatakan bahwa “A psychologically broken home is one where quarreling and fighting dominates,
where regular verbal abuse of children and parents occurs. Physically broken
homes are those where one or both parents are missing.”
Dari pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa broken home adalah kondisi
ketidakutuhan dalam sebuah keluarga yang diakibatkan oleh perceraian dan
perpisahan antara suami dan istri.
Penyebab Terjadinya Broken Home
Habsari (2005)
menyatakan bahwa beberapa hal yang menjadi penyebab broken home adalah (a) kemiskinan dan hutang yang melilit, (b)
pasangan tidak lagi saling menghargai dan menyayangi, (c) pengaruh orang ketiga
yang berusaha mengahancurkan hubungan rumah tangga, dan (d) salah satu pasangan
jatuh cinta terhadap orang lain sehingga menyebabkan terjadinya perselingkuhan.
Perkembangan Anak
Kurniawan
(2012) menyatakan bahwa terdapat 8 tahap perkembangan psikologis anak, antara
lain: (a) kepercayaan atau ketidakpercayaan, pada usia 0-12 bulan; (b)
kemandirian atau rasa malu; pada usia 12-24 bulan; (c) inisiatif atau rasa
bersalah, pada usia 2-5 tahun; (d) ketekunan atau rasa rendah diri, pada usia
5-10 tahun; dan (e) identitas atau kebingungan identitas, pada usia 10-20
tahun.
Kepercayaan
atau ketidakpercayaan (0-12 bulan). Pada tahap ini, bayi harus dipenuhi
rasa percaya pada orang terdekatnya. Kelekatan fisik pada tahap ini menjadi
sangat penting karena bayi merasakan rasa percaya melalui sentuhan fisik yang
diberikan.
Kemandirian atau rasa malu (12-24 bulan). Setelah diberikan kepercayaan, bayi
mulai belajar mengenali lingkungan dengan memegang benda yang ia temukan. Pada
proses ini, bayi harus diberikan apresiasi agar tidak tumbuh menjadi pribadi
yang pemalu.
Inisiatif atau rasa bersalah (2-5 tahun). Anak mulai mengembangkan rasa
inisiatif mereka dan mulai tertarik dengan banyak hal pada tahap ini. Pada fase
ini, anak sudah mulai mengerti nilai moral walaupun belum mengetahui mana yang
benar dan salah.
Ketekunan dan rendah diri (5-10 tahun). Anak mulai belajar berinteraksi dengan
lingkungan sosial. Pada fase ini, anak mengembangkan keterampila sosial dan
menyenangi hal-hal spesifik. Fase ini merupakan fase terbaik untuk
mengembangkan rasa percaya diri anak dengan mengikutsertakan anak dengan
lomba-lomba sesuai dengan bakat mereka.
Identitas dan kebingungan identitas (10-20 tahun). Fase ini merupakan tahap pencarian
identitas yang dilakukan oleh seorang remaja. Pada masa ini, seorang remaja
mulai berpikir tentang makna dari menang dan kalah. Di masa remaja, kompetisi
merupakan ajang pembutian identitas diri. Menang akan menghasilkan bangga,
kalah menghasilkan rasa tidak terima.
Dampak Broken Home terhadap Psikologis Anak
Stahl
(2000/2004) mengklasifikasikan dampak anak broken
home dalam tahap-tahap sebagai berikut: (a) anak prasekolah, anak yang
berusia 3-5 tahun; (b) anak usia sekolah, anak yang berusia 6-12 tahun; dan (c)
anak usia remaja, anak yang berusia 13-17 tahun.
Anak
prasekolah (usia 3-5 tahun). Anak-anak prasekolah yang menjadi korban broken home akan menarik diri secara
serius. Mereka akan dengan mudah menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang
terjadi di sekeliling mereka. Sejumlah anak akan tertekan dan menarik diri
bahkan mengalami mimpi buruk. Mereka akan memiliki rasa jengkel, terganggunya rasa percaya diri, perilaku agresif,
dan muncul perilaku yang berbeda dari biasanya.
Anak usia sekolah (6-12 tahun). Anak-anak usia sekolah yang menjadi korban broken home cenderung merasa kehilangan
dalam keluarganya dan mungkin akan merasakan kepedihan dan sering menangis.
Anak-anak dalam kelompok usia ini kemungkinan akan marah dan memilih salah satu
orangtua mereka sebagai cara untuk tetap mempertahankan harga diri dan hubungan
mereka. Beberapa anak menunjukkan gejala yang lebih serius, seperti
melampiaskan amarahya, merubah perangai, menghadapi
masalah-masalah tidur, perubahan tingkah laku dan kegagalan akademis di
sekolah, menarik diri, menyerang teman sebayanya, dan depresi.
Anak usia remaja (13-17 tahun). Anak-anak usia remaja yang menjadi korban broken home berpotensi menghadapi kegagalan
akademis, ketidakteraturan waktu makan dan
tidur, depresi, bunuh diri, kenakalan remaja, dewasa sebelum waktunya atau
penyalahgunaan narkoba. Apabila terjadi perceraian di usia ini, remaja
mengkhawatirkan hilangnya kehidupan keluarga mereka. Mereka cenderung merasa
ikut bertanggung jawab, merasa bersalah, dan marah karena dampak yang mereka
rasakan akibat perceraian itu.
Simpulan
Broken home merupakan
kondisi ketidakutuhan dalam sebuah keluarga yang diakibatkan oleh perceraian
dan perpisahan antara suami dan istri. Broken
home memberikan pengaruh bagi perkembangan psikologis anak karena tidak
adanya orangtua yang dapat mendukung pembentukan diri seorang anak. Hal ini
dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan psikologis anak. Dampak
negatif tersebut seperti usaha untuk menarik diri, tertekan, terganggunya rasa
percaya diri, rasa agresif, emosi yang tak terkontrol, mengalami
masalah-masalah tidur, tingkah laku dan akademis di sekolah, depresi,
ketidakteraturan waktu makan dan tidur, dan kenakalan remaja.
Saran
Bagi anak yang
berasal dari keluarga broken home dapat
berdoa setiap hari kepada Tuhan YME agar diberikan kekuatan, selalu berpikir
positif, sibukkan diri dengan kegiatan yang positif, belajar dengan tekun untuk
meraih prestasi yang baik, selektif dalam memilih teman, dan tetap berhubungan
dengan orangtua melalui telepon atau sms.
Bagi orangtua, sebaiknya tetap berhubungan
dengan anak, tidak bertengkar di depan anak, menelepon anak setiap hari,
memberikan support pada anak, dan
mengecek kondisi anak setiap hari.
Daftar
Pustaka
Habsari,
S. (2005). Bimbingan dan konseling SMA
untuk kelas XII. Jakarta: Grasindo.
Kurniawan,
Y. (2012). Kenali 8 tahap perkembangan psikologis anda. Diunduh dari http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/12/20/kenali-8-tahap-perkembangan-psikologis-anda-517613.html pada 10 November 2014.
Musick,
D. (1995). An introduction to the
sociology of juvenile delinquency. Albany, NY: State University of New York
Press.
Musthofa,
T. (2013). Dul korban keluarga broken home. Diunduh dari http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/09/dul-korban-keluarga-broken-home-590926.html pada 11 November 2014.
Septiani,
E. (2014). Kenakalan remaja akibat orang tua broken home. Diunduh dari http://www.academia.edu/5664179/KENAKALAN_REMAJA_AKIBAT_ORANG_TUA_BROKEN_HOME pada 9 November 2014.
Colman,
A. M. (2009). Oxford dictionary of english
(3rd ed.). New York, NY: Oxford University Press.
Stahl,
P. M. (2004). Menjadi orang tua setelah
perceraian. (Gyani, Penerj.). Jakarta: Grasindo. (Karya asli diterbitkan
tahun 2000)