Sabtu, 27 September 2014

26 September 2014

Hello Bloggers!
Hari ini saya akan share mengenai apa yang saya pelajari pada Jumat, 26 September 2014 di kelas filsafat. Hari ini terdapat 3 sesi di kelas saya yang menyebabkan saya pulang jam 3. Memang lelah, namun saya tetap tidak menyerah. Dari 3 sesi ini, saya mempelajari tentang manusia dan afektivitasnya, kebebasan, dan intellegensi. Yuk langsung kita mulai penjelasannya
MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA

Afektivitas membuat manusia berada di dunia dan berpartisipasi dengan orang lain. Afektifitas mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif. Seluruh kehidupan afektif berputar pada dua kutub yang bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling drnya krn menganggapnya buruk. Cinta merupkan buah afektivitas positif, sedangkan benci merupakan buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yang paling dasariah.

Sikap mana yang diambil afektivitas berhadapan dengan obyek? Terhadap obyek yang dianggap berguna subyek mencintainya. Ini disebut cinta utilitaris/bermanfaat.
Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda-beda menurut bagaimana subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yg berbeda2 ini disebut ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).

Afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa, padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yang spiritual.
Perbuatan afektif sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan perbuatan mengenal karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada perbuatan mengenal subyek membuka diri pada obyek.

Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya. Kesenangan adalah perasaan yang dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Cinta diri sendiri sering dianggap egoisme. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh.
Jika kita mencintai Tuhan, bukan berarti kita mengasingkan diri dari diri sendiri. St. Agustinus berkata, Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing-masing.
Tuhan adalah transenden dan imanen. Dia melampaui segala sesuatu dan selalu dekat dengan kita. Ia adalah dasar dalam mana semua manusia saling berkomunikasi.

Pada materi ini kami diberikan sebuah games kecil. Begini aturan mainnya :
       Mahasiswa berbaris membentuk lingkaran dan melepas sepatu serta meletakkannya di depan. Setiap orang berdiri di belakang sandal/sepatunya masing-masing.
       Permainan dimulai dengan bertanya, “Do you love me?” pada seseorang. Maka dijawab, “Tidak, saya mencintai org yg berambut panjang”. Maka, orang yang berambut panjang harus lari ke tempat sandal yang kosong. Yang tidak dapat, dia ditangkap oleh fasilitator dan harus berdiri di tengah serta dapat hukuman.
       Permainan dilanjutkan terus dengan pertanyaan yang sama dan dijawab dengan bermacam-macam, misalnya “Tidak, saya mencintai yang baju hitam, atau yang pakai kaca mata” atau “Ya, karena kamu memakai baju hitam”

KEBEBASAN

Jiwa dan kebebasan
Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas. Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme

Pandangan determinisme
Aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik
·         Determinisme fisik-biologis
·         Determinisme psikologis
·         Determinisme sosial
·         Determinisme teologis

Kelemahan determinisme :
·         Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia
·         Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
·         Menafikan adanya tanggung jawab

Argumen dari kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia
·         Manusia hidup dalam “kemungkinan dapat”/berhadapan dengan pilihan berbeda bobot
·         Adanya tanggung jawab
·         Makna perbuatan moral ada pada kebebasan

Arti kebebasan
Pengertian umum/kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial
Pengertian khusus/kebebasan eksistensial
·         Penyempurnaan diri
·         Kesanggupan memilih dan memutuskan
·         Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (Franz Magnis-Suseno)

Jenis-jenis kebebasan
  • Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
  • Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain)
  • Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial
    • Melibatkan pertimbangan
    • Mengedepankan nilai kebaikan
    • Menghidupkan otonomi
    • Menyertakan tanggung jawab
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis, dan normatif. 4 alasan terdapat pembatasan sosial :
·         Menyertakan pengertian
·         Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
·         Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
·         Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

Sejarah perkembangan masalah kebebasan
Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena
·         Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah “nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya
·         Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya
·         Manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis

Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik
Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik
Era kontemporer (pascamodern?), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

INTELEGENSI

Kompleksitas pengetahuan
Pengetahuan adalah nilai bagi makhluk yang mempunyainya baik bagi manusia,malaikat ataupun binatang.
Pengetahuan dibedakan menjadi 2 :
·         Pengetahuan indrawi : mencapai secara langsung melalui alat indra
·         Pengetahuan intelektif : memperlihatkan dengan daya ingat dan khayalan

Sifat-sifat pengetahuan :
·         Perseptif : memungkinkan kita untuk menyesuaikan diri kita secara langsung.
·         Reflektif : membuat objektif kodrat manusia atas realitas apa pun.
·         Diskurtif : memperhatikan objek dari suatu benda,kemudian aspek lain sehingga membentuk prinsip sebab-akibat.
·         Induitif : memperhatikan objek dalam satu aspek, keseluruhan dalam suatu bagian
·         Kontemplatif : mempertimbangkan hal-hal dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri.
·         Spekulatif : mempertimbangkan hal-hal dalam ide-ide atau konsep tentang hal itu
·         Praktis : mempertimbangkan bagaimana bisa digunakan.
·         Sinergis : mengkoordinasikan seluruh keadaan dari subjek keseluruhan (anggota,organ,kemampuan indrawi)

Arti pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek.
Pengetahuan :
·         Relasional : karena lewat pengetahuan manusia dapat salimg berhubungan
·         Trans-subjektif : Karena pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasannya dan mentransedensikan keakuan subjektifitasnya

Pengandaian pengetahuan
Dari segi subjek
Supaya makhluk hidup itu bisa mempunyai kesempurnaan yang dinamakan pengetahuan, maka harus dikarakteristikan oleh :
  1. Keterbukaan
  2. Kemampuan menyambut
  3. Interioritas
Dari segi objek
Untuk menjadikan objek yang dikenal, untuk menyatakan dirinya pada satu pihak membuat kesan (atau mempengaruhi) subjek.
Bentuk dari suatu benda menunjukkan kepada kita orientasi, tujuan, dan arti benda itu. Akibatnya, mengerti bentuk dalam arti eidos (konsep, gagasan) suatu objek adalah juga menangkap orientasi dan signifikasi, adalah mengerti mengapa dan untuk apa dia dibuat. Contoh : melihat pisau
Pengertian
Intelegensi didasari oleh sesuatu yang disebut dengan PENGERTIAN.
Pengertian ini membicarakan :
  1. Yang bukan intelegensi
  2. Sifat dan objek intelegensi
  3. Kegiatan intelegensi
  4. Kodrat intelegensi manusia
Yang bukan intelegensi
Indrawi : Mengambarkan segi-segi material dan konkret (dihasilkan oleh indra eksten).
Indrawi batin (Intelektif) : Ingatan dan imajinasi (daya membayangkan).
Pengetahuan Indrawi dan Intelektif  bersifat sinergis
Intelegensi menangkap kodrat objek dan tetap menyimpannya dalam dirinya sehingga dapat dipertimbangkan objek itu bagi dirinya baik objeknya masih ada atau tidak ada.
Yang bukan seluruh intelegensi
Intelegensi tidak bisa diidentikkan dengan insight, refleksi, penalaran, kecakapan mengukur dan menghitung. Intelegensi juga tidak dapat diidentifikasikan secara mutlak dengan kemampuan untuk memulihkan keseimbangan melalui readaptasi diri.  Semuanya itu bukanlah keseluruhan kegiatan intelegensi.
Sesungguhnya intelegensi manusia itu meliputi :
  1. Integensi
  2. Intuinsi
Sifat dan objek intelegensi manusia
Menurut Descartes roh memungkinkan untuk mencapai hakikat sendiri dari realitas, sedangkan panca indra memberitahukan kepada kita apa yang berguna atau apa yang merugikan dari hal hal tersebut
Intelejensi orang dewasa dapat dikenal dengan objeknya, sdangkan intelejensi anak bersifat egosentris
Intelligere berasal dari kata intus berarti dalam. Legere berarti membaca dan menangkap. Sehingga intellegere berarti “membaca” dimensi dalam segal ahal dan menangkap artinya yang dalam.
Intelegensi manusia dewasa bersifat tidak terbatas, memperhitungkan pelajran masa lampau, kemungkinan masa depan, objektif dan terstruktur dan mendalam.
Objek dari intelejensi adalah “ada” yakni sesalu ada, yang oernah ada dan mungkin akan ada baik berupa kenyataan maupun khayalan atau berupa konsepsi saja.
Bila intelegensi ingin mengerti sesuatu, maka penyelidikannya akan mengenai “ada” (eksistensi) atau bagaimana objek itu ber-ada (esensi).
Bila inteligensi mengerti maka ia menangkap objeknya itu ada atau ia adalah begini atau begitu. Bila ia mendefinisikan, maka menempatkan objek itu dalam suatu jenis dan spesies eksistensi tertentu. Bila mana ia menilai maka ia menegaskan bahwa objek itu adalah seperti apa yang digambarkan dan dikatakannya. Bila ia bernalar maka ia menunjukkan mengapa objeknya adalah sebagaimana adanya.
Segala penegasan, penilaian, kesimpulan dan penalaran kita didasarkan kepada beberapa prinsip :
·         Prinsip identitas
·         Prinsip alasan yang mencukupi
·         Prinsip kualitas efisien
Prinsip-prinsip di atas merupakan dinamisme dari ‘ada’ dalam kegiatan intelektual kita.

Kegiatan intelegensi manusia
Suatu intelegensi yang terjelma berkegiatan dalam kondisi :
  1. Intelegensi merupakan salah satu kemampuan manusia dan beroperasi dengan partisipasi kemampuan yang lain
  2. Apa yang dimengertinya selalu dipahami.
  3. Tak bisa memahami sesuatu secara mendalam dengan seketika melainkan secara progresif
  4. Intelegensi melalui aktivitas dinamisme intelektual saja, perlu kehendak, keyakinan, keberanian dan kesabaran
  5. Untuk dapat mengerti dibutuhkan bantuan dan kolaborasi, perlu informasi terhadap suatu objek, bimbingan penelitian,berpikir dalam hubungan dengan orang-orang lain.
Persepsi : Semacam pengetahuan spontan pra-sadar dan pra-pribadi tentang dunia dimana kita berada
Insight : Intelegensi yang berhasil menembus suatu data, menangkap eidos-nya, bahwa intelegensi mampu mengandaikan atau mengabstraksikan untuk menerangkan data sehingga jelas ciri-ciri pokoknya
Putusan : Lebih direfleksikan daripada persepsi, aprehensi, insight, sebab tiada putusan autentik kecuali telah menyadari dasar pembenarannya. Salah satu tindakan refleksi yang paling menakjubkan dari intelegensi manusia adalah tindakan menyadari bahwa ia memiliki norma yang berkatnya ia mampu mengeluarkan putusan-putusan tentang segala sesuatu
Penelitian tentang intelegensi manusia membahas pada pokok pangkal masalah, yaitu bahasa dan isyarat. Kata dan isyarat tampak sebagai sarana komunikasi dan manifestasi diri terhadap orang lain

Kodrat intelegensi manusia
Menurut aliran sensualisme dan empirisme psikologi masuknya informasi lewat indra bergantung pada pengetahuan dan intelegensi kita. Sifat immaterial atau karakter transeden intelegensi terhadap indrawi bukan hanya muncul sebagai kesimpulan analisis philosofis, karena roh bukanlah sesuatu yang bersifat material  (K.S.Lashley.)
Manusia mampu untuk mengambil jarak terhadap sesuatu, menjatuhkan pendapat, menilai, memilih dan mengambil sikap dengan mengenal sebabnya.

Intelegensi adalah prinsip kekekalan dalam diri kita, kematian bukanlah kehancuran total, karena adanya roh yang tidak musnah bersama dengan daging.

Berikut yang telah saya pelajari di kelas psikologi saya Jumat, 26 September 2014. Jangan lupa komentar dan beri nilai 1-100 ya. Terima kasih :D

Sumber : power point "manusia dan afektivitasnya" , "kebebasan", dan "intelegensi"

3 komentar: